Search This Blog

Friday, May 14, 2021

Ganti Rantai Yamaha Jupiter-Z 2004 a la Rumahan

Gimana sih motor yang sempurna itu? Well ini tergantung prefernsi dari masing-masing pribadi. Ada yang senang performa, ada yang senang standaran ada cukup, ada yang senang modifikasi ekstrim, tapi buat saya motor yang sempurna adalah motor yang bisa diandalkan. Ada orang yang menggunakan motornya sebagai sarana komuter, ada yang menggunakannya pula untuk koleksi, olahraga balap, kontes dan sebagainya. Tapi yang paling penting adalah mengerti terlebih dahulu apa sih yang kita mau dan ke depanya mau seperti apa…

Itu terjadi pada Yamaha Jupiter-Z 2004 saya, keluarga kami membeli model ini di tahun 2005 silam sebagai sarana transportasi sehari-hari keluarga kami di samping Honda Grand Impressa yang juga kala itu kami miliki. Yup, sebagai moda transportasi sehari-hari atau komuter bagi anggota keluaga. Maka yang terlintas di kepala saya sewaktu ditugasi ayah saya untuk memilih waktu itu adalah; harga yang bersahabat, mesin yang bandel, konsumsi bensin irit, mudah dalam penggunaan dan perawatan. And yes, it meets with my expectation up until now. 

Tapi memang ada beberapa part yang mustinya memang jadi perhatian karena motor ini sudah tidak bisa dibilang motor muda lagi. Apalagi untuk rantai belakang, terhitung semenjak 2005 saya baru mengganti gear belakang sekali di tahun 2013 dan akhirnya 8 tahun kemudian sudah aus.

Untuk spare part sendiri gear set belakang masih terbilang banyak di pasaran atau kita juga bisa memilih dengan variasi part yang tentunya juga dari merk ternama seperti SSS, TDR, dll. Saya sendiri sudah membeli spare part ini dari tahun 2017 jaga-jaga barangkali gear set perlu diganti.

Saturday, March 6, 2021

Project Bike; Jupiter-Z 2004 Part-3; Input Mapping ke CDI BRT I-Max 24-Step

So guys melanjutkan dari part-1 (https://9-engineering.blogspot.com/2020/12/project-bike-jupiter-z-2004-brt-i-max.html) dan part-2 (https://9-engineering.blogspot.com/2021/01/project-bike-jupiter-z-2004-part-2.html) sekarang saatnya kita memasukkan mapping 24-step ke dalam CDI.

Sedikit resume; di part-1 kita membahas mengenai perhitungan pendekatan timing mapping dan limiter, di part-2 adalah langkah-langkah pembongkaranya.

Pertama tentu saja pasang unit CDI ke motor. Pastikan bahwa CDI terikat kencang agar tidak ada guncangan berlebih yang dapat merusak unit ataupun menimbulka bunyi. Di CDI terdapat beberapa soket, mulai dari paling atas adalah selector untuk memilih mapping. CDI bisa menyimpan 16 +1 ignition map yang kita butuhkan, artinya 16 +1 adalah 16 mode utama pada selector dan 1 map tambahan yang aktif ketika tombol/saklar dual band “on”. Lalu ada socket remote yang berfungsi sebagai “pintu masuk” dari data yang diinput oleh remote ke CDI. Selanjutnya ada beberapa LED indikator, menyala biru sebagai penanda “Low Voltage” atau disinyalir aki tekor. Pada saat LED biru ini menyala disarankan melakukan pemeriksaan sistem kelistrikan, supply voltase yang kurang ke dalam CDI beresiko merusak komponen internal dari CDI walau BRT sudah menyematkan teknologi “Blue Eyes” yang dapat melindungi kerusakan komponen CDI karena supply voltase yang kurang, jika dipaksakan biasanya motor akan susah menyala atau mesin menjadi brebet karena kurangnya pula besaran percikan api pada busi. Oh iya BRT juga menyarankan tetap menggunakan koil pengapian dan busi sesuai std pabrikan dari motor.

Selanjutnya ada LED dual band berwarna kuning, indikator LED ini akan menyala ketika switch dual band diaktifkan, lalu indikator terakhir adalah LED merah sebagai penanda CDI On jika lampu tersebut menyala. Setelah itu di depan tentunya ada socket ignition timing ke motor lalu socket Dual Band yang disambungkan ke switch atau saklar.

Karena saya belum begitu memerlukan fitur dual band maka saya cukup menyambungkan kabel dual band bawaan CDI dengan switch yang saya beli sendiri di pasaran. Walaupun begitu tetap nanti mapping Dual Band-nya saya input juga.

Saturday, January 23, 2021

Project Bike; Jupiter-Z 2004 Part-2; Sebelum Pasang CDI I-Max Kita Bongkar Dulu dan Ganti Lampu Belakang

 Dipenghujung tahun 2020 lalu saya membeli CDI BRT I-max 24 step yang akan saya pasang di Yamaha Jupiter-Z 2004 saya dengan spesifikasi mesin bore up harian. Nah sebelum melakukan pemasangan saya juga melakukan beberapa perhitungan pendekatan yang bisa dicek di link; https://9-engineering.blogspot.com/2020/12/project-bike-jupiter-z-2004-brt-i-max.html . Nah, sekarang saatnya untuk memasang CDI-nya dan melakukan pemrograman.

Yap memang agaknya memakai CDI secanggih BRT I-Max pada motor spek harian saya https://9-engineering.blogspot.com/2020/05/project-bike-yamaha-jupiter-z-2004-saat.html dirasa cukup berlebihan, tapi seperti yang pernah saya cerita di part-1 lalu karena incaran saya; BRT Smart Click tidak saya temukan di beberapa toko/speed shop langganan haha.


Yuk langsung aja kita eksekusi; pertama, karena saya pakai “penjepit angsang” di dek tengah maka kita lepas dulu dengan membuka baut no.1 dan 2 (baut no.2 ada di kiri dan kanan) seperti pada gambar di atas. Lepas angsang lalu lepas baut no.3 dan cover dek tengah bisa dilepas.


Kita ke depan sebentar, sedikit di bawah plat nomor kita lepas bautnya yang semestinya di sini ada di posisi di lingkaran merah seperti pada gambar di atas. Sorry guys itu saya sudah pakai cable ties karena mur nya sudah lepas hehe.

Thursday, December 31, 2020

Project Bike; Jupiter-Z 2004 BRT I-Max Installation Part-1: Timing Map Calculation

Orang-orang banyak yang bilang ke saya; kenapa saya tetap maintenance Jupiter-2004 ini, kenapa saya tetap memaksakan motor tua ini, kenapa ga beli baru aja dan sebagainya. So guys, tuning is addicting plus maintenance, plus restorasi... it’s way more addicting. Motor ini relatif aman dari tindak kriminal, tampang sudah tua ya kan? Tapi potensi performanya masih ada, ditambah saya lumaya mengetahui tentang motor, bisa saja mungkin beli motor bebek biasa atau matic baru tetapi tetap saja “Value for money” nya masih kalah dengan merawat atau tuning motor ini sekalipun.

So semuanya berawal dari tuning mesin motor ini setahap demi setahap (https://9-engineering.blogspot.com/2020/05/project-bike-yamaha-jupiter-z-2004-saat.html) yang... baru kesampaian saat saya kerja bukan pas saya pakai saat sekolah dulu (modalnya belum cukup haha). Setelah bore up dan saya lakukan perhitungan secara teoritis, saya membutuhkan CDI dengan kemampuan programmable limiter mesin dan saya akan men-set limiter di 11.000rpm.

 
Parameter pertama adalah piston speed. Piston speed merupakan kecepatan piston bergerak pada silinder satu putaran poros engkol atau dua kali stroke. Adapun produsen piston juga telah menyertakan piston speed max yang dapat diterima oleh piston, tetapi karena produk paket bore up Moto1 yang saya pakai tidak menyertakan angka tersebut maka saya menggunakan tabel referensi di atas sebagai acuanya. Saya menentukan besaran piston speed max untuk motor Jupiter-Z saya sebesar 20 m/sec. Kenapa tidak lebih tinggi karena saya memiliki beberapa asumsi, pertama; akan saya pakai harian yang mana hanya digunakan maksimum pada kecepatan rendah atau tinggi sesekali waktu saja, maka rentang yang dipakai adalah high sped di kisaran 20~25 m/sec. Lalu kedua adalah faktor lainya pada mesin saya seperti per klep masih std yang saya anggap cukup riskan jika saya paksa dengan putaran mesin hingga 13.000rpm, maka dikarenakan harian saya masih perlu ambang batas aman untuk durability mesin, maka saya anggap 20m/sec menghasilkan batasan rpm yang cukup untuk meraih kecepatan atau tenaga sekaligus aman untuk mesin.
 
Sampai di sini juga perlu saya sampaikan kenapa mengambil parameter berdasarkan asumsi dan referensi. Nah begini; idealnya... saya juga harus melakukan perhitungan yang tepat didasari dengan pengukuran data aktual melalui beberapa alat ukur yang valid yang sayangnya saya belum mempunyai itu. Seperti contoh flow bench meter, pressure gauge, beberapa stand dan jig untuk mensimulasi ketahanan komponen, dll. Nah di tengah keterbatasan ini referensi dari data yang sudah ada (untuk kasus ini saya ambil dari Wikipedia) juga dapat dilakukan untuk melakukan pendekatan se-optimal mungkin ke kondisi kita. 
 

Cara menghitung Piston speed ada di rumus di atas.
 

Maka untuk menghitung max rpm yang dapat digunakan menggunakan rumus di atas. 
 

Saturday, December 19, 2020

Ganti Batang Pengungkit Rem Belakang Yamaha Jupiter-Z 2004

Well kayanya akhir-akhir ini saya banyak berkutat di masalah rem, baik itu rem depan maupun belakang. Yaaa mau gimana lagi karena memang karena dipake kan ya haha. Tapi untuk topic kita kali ini ada cerita menarik yang selain saya pengen share ke rekan-rekan sekalian juga saya punya tujuan biar jadi kenang-kenangan nanti hehe, check this out.

So bermula dari hari pertama bekerja di tempat yang baru... pasti kebayang kan persiapanya seperti apa. Bangun lebih pagi untuk berangkat, penampilan yang tambah dijaga agar memberikan impresi yang baik kepada rekan kerja baru. Semuanya disiapkan, dipastikan agar berjalan dengan lancar. Sampai ke motor sebagai sarana transportasi saya sehari-hari harus saya siapkan dengan matang, https://9-engineering.blogspot.com/2020/10/project-bike-yamaha-jupiter-z-2004.html Look at that! Sampai perusahaan tidak memperbolehkan memakai knalpot racing pun saya rela melakukanya di jupiter z bore up saya.


Jadi di tengah perjalanan berangkat kerja, saat melakukan pengereman karena ada polisi tidur, saya injak rem belakang dan tiba-tiba bletak!!! Di-gas langsung berat banget, seketika saya melipir ke pinggir pelan-pelan karena didorong dengan kaki pun berat. Saat itu sayapun hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat; baut tuas reaksi hilang atau patah sehingga teromol memutar, batang pengungkit tergulung di bos rem belakang. Seperti foto di atas bos rem belakang sampai mengalami lecet. Untungnya ban tidak terkunci dan setelah saya lepas jeratan batang pengungkit yang tergulung saya melanjutkan perjalanan dengan selamat tanpa menggunakan rem belakang dan ini saya juga melakukanya saat perjalanan pulang. Ngeri-ngeri sedap sih apalagi total berangkat-pulang kerja saya menempuh 68km.


Singkat cerita saya membongkar ban dan mengecek kondisi rem belakang serta teromol roda belakang, Puji Tuhan tidak ada yang rusak pada kampas serta teromol belakangnya dan masih bisa dipakai kembali.